Hingga November tahun lalu NPF modal ventura melorot menjadi 4,83%

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, per November 2018, non performing financing (NPF) industri modal ventura mengalami penurunan. Yakni menjadi 4,83% dari 6,89% pada posisi November 2017.

Menurut Ketua Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia (Amvesindo) Jefri Sirait, pendorong penurunan NPF ini adalah adanya kenaikan penyertaan modal ventura. Data OJK memang menunjukkan, total penyertaan modal ventura naik 22,8% secara year on year menjadi Rp 8,24 triliun.

Jefri mengatakan, penyertaaan modal ventura ini banyak yang digelontorkan ke sektor-sektor produktif. OJK mencatat, penyertaan modal pada sektor perindustrian naik sebesar 37,5% dari Rp 533 miliar per November 2017 menjadi Rp 733 miliar hingga November tahun lalu.

“Penyertaan modal ventura ke sektor produktif membuat kualitas penyertaan turut membaik karena ada nilai tambah dari proses industri tersebut,” kata dia saat dihubungi Kontan.co.id, Senin (21/1).

Faktor pendorong kedua dari penurunan NPF ini adalah perusahaan-perusahaan modal ventura menjalankan fungsi edukasi dan pendampingan usaha ke pasangan usahanya (investee). Hal ini dilakukan supaya para pasangan usaha dapat meningkatkan kapasitas bisnisnya.

“Kami juga meningkatkan kontrol penggunaan dana ini, apakah benar-benar digunakan untuk pembiayaan yang memang sesuai pada saat pengajuan,” ucap dia.

Menurut Jefri, di tahun ini sektor perindustrian seperti otomotif, makanan dan minuman, serta kimia dasar masih menjadi sektor yang didorong untuk tumbuh. Sebab sesuai dengan kebutuhan masyarakat. “Apalagi ada dorongan ekspor dari pemerintah. Ini juga akan jadi lebih baik,” kata dia.

Sektor lain yang masih diprediksi bakal tumbuh adalah perdagangan, restoran, dan hotel. OJK mencatat, sektor ini tumbuh sebesar 18,82% secara yoy menjadi Rp 3,63 triliun sampai November 2018.

Menurut dia, sektor ini akan terus membaik seiring dengan peningkatan infrastruktur, gaya hidup, serta adanya sepuluh destinasi wisata baru yang menjadi prioritas pengembangan pemerintah. 

Reporter: Nur Qolbi
Editor: Tendi

Reporter: Nur Qolbi
Editor: Tendi
Video Pilihan

Bank BCA sudah berhasil menjual Rp 1,1 triliun SBR005

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Masa penawaran instrumen Saving Bond Ritel (SBR) seri 005 telah sepekan berlalu. Meski sudah diterbitkan untuk kelima kalinya, instrumen ini masih mendapat antusiasme besar di kalangan investor ritel dalam negeri.

Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk Jahja Setiaatmadja mengatakan terhitung sejak Kamis (17/1), penjualan SBR005 di bank swasta terbesar di Indonesia tersebut telah menembus sekitar Rp 1,1 triliun. “Sampai dengan saat ini sudah terjual Rp 1,1 triliun dari target sebesar Rp 2 triliun,” ujar Jahja kepada Kontan.co.id, Jumat (18/1). 

Jahja mengungkapkan, Bank BCA sementara ini hanya mematok target penjualan SBR005 sebesar Rp 2 triliun. Lantaran, pemerintah memang hanya menetapkan kuota maksimal penjualan SBR005 sebesar Rp 5 triliun. 

Jika nantinya penjualan SBR005 telah memenuhi target Rp 2 triliun tersebut sebelum akhir periode, Jahja menyebut, kemungkinan penawaran instrumen akan ditutup oleh BCA.

Sebelumnya, Direktur Surat Utang Negara (SUN) Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Loto Srinaita Ginting memang mengungkapkan hal serupa. Pemerintah hanya membatasi kuota maksimal penjualan SBR005 sebesar Rp 5 triliun. 

“Jadi, kalau nanti sudah terpenuhi, penawaran bisa saja kami tutup sebelum masanya selesai. Untuk itu, investor lebih baik membeli SBR005 ini secepat mungkin,” ujarnya saat launching SBR005, Kamis (10/1) lalu.

Reporter: Grace Olivia
Editor: Noverius Laoli

Reporter: Grace Olivia
Editor: Noverius Laoli
Video Pilihan

Himbara mendesak agar dibuat regulasi yang mengatur suku bunga deposito

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ketua Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) Maryono mengimbau agar pemerintah membuat regulasi terkait suku bunga deposito perbankan. Tujuannya adalah agar bank-bank tidak melakukan perang bunga deposito yang justru membuat bisnis industri perbankan tidak kondusif.

“Supaya pengaturan daripada suku bunga bisa diatur jangan sampai masing-masing Buku berlomba-lomba menaikkan bunga,” katanya usai Dapat Dengar Pendapat dengan Komisi XI DPR, Selasa (15/1).

Menurutnya, terlebih di tengah masih ketatnya likuiditas perbankan, perang suku bunga tidak perlu dilakukan.

Sepanjang 2018, Bank Indonesia (BI)  menaikkan enam kali suku bunga acuan hingga 175 bps. Di lain sisi, beberapa bank juga turut mengerek bunganya dengan niat menghimpun lebih banyak dana.

“Di Himbara, kami tidak sekadar mengikuti tren suku bunga. Tapi kami lebih menjaga kualitas kredit, dan stabilisasi sektor riil,” katanya.

Meski mendesak agar suku bungan deposito diatur, Maryono bilang capping alias penentuan batas atas dan batas bawah suku bunga belum perlu dilakukan.

“Dibuat fleksibel saja pengaturannya.” Lanjutnya.

Reporter: Anggar Septiadi
Editor: Noverius Laoli

Reporter: Anggar Septiadi
Editor: Noverius Laoli
Video Pilihan

Genjot kinerja industri keuangan 2019, ini lima arah kebijakan OJK

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Demi meningkatkan kinerja industri jasa keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyiapkan lima arah kebijakan dan inisiatif sepanjang 2019.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyatakan kebijakan ini guna mendukung pembiayaan sektor-sektor prioritas pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, pemberdayaan UMKM dan masyarakat kecil.

Serta mendorong inovasi teknologi informasi industri jasa keuangan serta reformasi internal dalam pengaturan dan pengawasan sektor jasa keuangan.

“Pertama, memperbesar alternatif pembiayaan jangka menengah dan panjang bagi sektor strategis, baik pemerintah dan swasta, melalui pengembangan pembiayaan dari pasar modal,” ujar Wimboh di Jakarta, Jumat (11/1).

Kebijakan ini akan OJK capai dengan memberikan insentif kepada calon emiten melalui penerbitan efek berbasis utang/syariah, Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT), Efek Beragun Aset (EBA), Dana Investasi Real Estate (DIRE), Dana Investasi Infrastruktur (DINFRA), instrumen derivatif berupa Indonesia Government Bond Futures (IGBF), Medium-Term-Notes (MTN), dan pengembangan produk investasi berbasis syariah, di antaranya Sukuk Wakaf.

Selain itu, OJK juga mendorong realisasi program keuangan berkelanjutan dan blended finance untuk proyek-proyek ramah lingkungan dan sosial termasuk 31 proyek yang disepakati dalam forum pertemuan tahunan IMF-World Bank Oktober lalu di Bali.

“Kedua, mendorong lembaga jasa keuangan meningkatkan kontribusi pembiayaan kepada sektor prioritas seperti industri ekspor, substitusi impor, pariwisata maupun sektor perumahan. OJK mendorong realisasi program Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata bekerja sama dengan instansi terkait,” tambah Wimboh.

OJK juga akan mendukung percepatan peran Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dalam mendorong ekspor.

Ketiga, OJK memperluas penyediaan akses keuangan bagi UMKM dan masyarakat kecil di daerah terpencil yang belum terlayani lembaga keuangan formal.

Misalnya dengan pendirian Bank Wakaf Mikro menjadi sekitar 100 lembaga pada akhir tahun 2019. Serta menargetkan indeks inklusi keuangan sebesar 75% di tahun ini.

Keempat, OJK akan mendorong inovasi industri jasa keuangan dalam menghadapi dan memanfaatkan revolusi industri 4.0 dengan menyiapkan ekosistem yang memadai dan mendorong lembaga jasa keuangan melakukan digitalisasi produk dan layanan keuangannya dengan manajemen risiko yang memadai.

“OJK akan terus memfasilitasi dan memonitor perkembangan start up Fintech, termasuk start up FinTech Peer-to-Peer Lending dan Equity Crowdfunding melalui kerangka pengaturan yang kondusif dalam mendorong inovasi dan sekaligus memberi perlindungan yang memadai bagi konsumen,” jelas Wimboh.

Reporter: Maizal Walfajri
Editor: Yudho Winarto
Video Pilihan

Penyaluran kredit pendidikan masih mini

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejak pertengahan 2018, beberapa bank telah merilis produk kredit pendidikan untuk menjawab tantangan Presiden Joko Widodo agar perbankan nasional mencontoh Amerika Serikat yang punya student loan. Sayangnya, realisasi penyaluran kredit pendidikan ini tak sebesar niat mempermudah akses pendidikan.

PT Bank Tabungan Negara (persero) Tbk (BBTN) misalnya dari target penyaluran kredit sebesar Rp 100 miliar pada 2018, BTN hanya mampu menyalurkan Rp 1 miliar.

“Hingga 2018, BTN telah merealisasikan kredit pendidikan lebih dari Rp 1 miliar kepada 12 debitur,” kata Director of Strategic, Risk, and Compliance Mahelan Prabantarikso kepada Kontan.co.id, Rabu (9/1).

Dari catatan Kontan.co.id, kredit pendidikan yang ditawarkan BTN sejatinya cukup menarik, dengan plafon maksimal mencapai Rp 200 juta dengan bunga yang juga kompetitif sebesar 6,5% selama lima tahun. 

Ketika dirilis April 2018 lalu, BTN juga meneken kerjasama dengan 24 perguruan tinggi. Dimana dengan kerjasama tersebut, mahasiswa sarjana hingga doktoral di 24 kampus tadi bisa turut memanfaatkan produk ini.

Capain yang tak menggembirakan juga terjadi di PT Bank Negara Indonesia (persero) Tbk (BBNI). Penyaluran kredit pendidikan BNI sepanjang 2018 juga tak banyak.

“Realisasinya tidak terlalu besar, nilai kredit yang disalurkan baru mencapai Rp 3,2 miliar,” kata General Manager Product Management Division Donny Bima kepada Kontan.co.id.

Kata Donny realisasi tersebut tak hanya diberikan untuk biaya kuliah mahasiswa, melainkan juga untuk dosen guna menunjang biaya penelitian. Terkait minimnya realisasi, Donny menjelaskan hal tersebut lebih disebabkan oleh proses seleksi yang ketat oleh BNI.

“Realisasinya memang belum terlalu besar, karena memang diberikan secara selektif dengan kerjasama kita dengan beberapa universitas negeri. Saat ini kita juga terus meningkatkan kerjasama dan diharapkan akan meningkatkan portofolio kredit pendidikan secara signifikan” jelasnya.

Sementara profil kredit pendidikan dari BNI dengan merek BNI Flexi Pendidikan ini menawarkan 8,4% pertahun dengan plafon pinjaman maksimum Rp 500 juta dan tenor maksimum tiga tahun.

Mitigasi dalam pemberian kredit pendidikan memang mutlak dilakukan perbankan. Tentu agar niat memperbesar tak malah menunpuk kredit macet perbankan.

Terlebih, Menteri Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi M. Nasir Desember lalu bilang pemerintah tengah menggodok Peraturan Presiden (Perpres) terkait. Meskipun Kontan.co.id belum berhasil kembali mengonfirmasi hal ini kembali.

Nah kata Nasir Perpres tersebut kelak akan menjadi turunan dari UU 12/2012 tentang Perguruan Tinggi. Dimana dalam pasal 76 ayat (2) huruf c. kredit pendidikan yang diterima mahasiswa diberikan bunga 0%.

Reporter: Anggar Septiadi
Editor: Herlina Kartika

Reporter: Anggar Septiadi
Editor: Herlina Kartika
Video Pilihan

Begini cara melapor pelanggaran biaya akuisisi via whistleblowing system (WBS) AAUI

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) membentuk tim pelaporan pelanggaran yang disebut whistleblowing system (WBS). Pelanggaran yang menjadi tanggung jawab tim ini adalah terkait kesepakatan anggota AAUI untuk tidak menerapkan biaya akusisi yang berlebihan (excessive commissions) untuk perantara alias intermediary produknya.

Intermediary yang dimaksud adalah pialang asuransi, agen asuransi, bank, multifinance, dealer kendaraan, atau pihak ketiga lainnya. Kesepakatan itu tertulis dalam Surat Keputusan Dewan Pengurus Pusat AAUI Nomor 22/SK.AAUI/2018 dan berlaku mulai 1 Januari 2019.

Tugas tim WBS terdiri dari menerima laporan pelanggaran, berkomunikasi dengan pelapor, menindaklanjuti laporan, dan melaporkan hasil pemeriksaan. Direktur Eksekutif AAUI Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe berperan sebagai ketua tim WBS. Kemudian, anggotanya adalah orang-orang yang tidak terikat pada perusahaan-perusahaan anggota AAUI.

Berikut ini merupakan langkah-langkah pelaporan pelanggaran ke WBS AAUI. Pertama, pelapor dapat mengirimkan laporannya secara tertulis beserta bukti dan dokumen pendukungnya. Meliputi perkiraan waktu dan tipe pelanggaran, nama personel yang mengetahui informasi pelanggaran, dan jumlah nominal pelanggaran.

Laporan itu dapat dikirim melalui surat elektronik ke wbs@aaui.or.id, situs web AAUI di www.aaui.or.id bagian WBS, atau melalui surat yang ditujukan kepada Ketua Tim WBS  dengan alamat: Gedung Permata Kuningan Lantai 2 Jalan Kuningan Mulia Kav. 9C, Guntur, Jakarta Selatan 12960

Setiap pelapor akan dijaga kerahasiaan identitasnya. Asosiasi juga akan melindungi pelapor jika nantinya ada diskriminasi, pembalasan atau upaya hukum terhadap pelapor.

Kedua, setelah laporan masuk, AAUI akan memverifikasi laporan tersebut. Jika belum lengkap dan valid, AAUI akan meminta pelapor untuk melengkapi terlebih dahulu. Namun bila sudah lengkap dan valid, Tim WBS akan menyampaikan laporan pelanggaran ke Dewan Kehormatan (DK) AAUI dalam waktu lima hari kerja.

Ketiga, DK akan memanggil perusahaan terlapor dan diberi kesempatan untuk memberikan penjelasan. Lalu keempat, Jika dirasa tidak cukup, DK akan menunjuk auditor untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Kelima, berdasarkan keputusan auditor, DK akan melaksanakan sidang dan memutuskan apakah perusahaan tersebut melanggar atau tidak, sekaligus menjatuhkan sanksi.

Setelah sidang, langkah keenam adalah DK akan menyampaikan keputusannya kepada pengurus AAUI. Apabila sanksinya berupa pembekuan dan pencabutan keanggotaan AAUI, DK akan menyampaikan keputusan tersebut dalam Rapat Umum Anggota (RUA AAUI). Segala keputusan akan AAUI sampaikan kepada OJK.

Sanksi pelanggaran sendiri terdiri dari beberapa tingkatan. Pertama, sanksi tertulis kepada direksi perusahaan yang bersangkutan dengan tembusan OJK dan komisaris perusahaan. Kedua, apabila tetap melanggar, AAUI akan mengeluarkan rekomendasi kepada OJK untuk meninjau ulang kelayakan dan kepatutan direksi dan komisaris.

Ketiga, pembekuan  keanggotaan AAUI. Terakhir, pencabutan keanggotaan dalam Kongres Luar Biasa AAUI. 

“Hal tersebut adalah wajar mengingat semua perusahaan asuransi umum adalah anggota AAUI dan terikat dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD ART) AAUI termasuk kesepakatan dalam RUA AAUI,” kata Dody. 

Reporter: Nur Qolbi
Editor: Tendi

Reporter: Nur Qolbi
Editor: Tendi
Video Pilihan

Bank BRI siapkan dana Rp 1,5 triliun untuk akuisisi perusahaan asuransi

KONTAN.CO.ID –  JAKARTA. PT Bank Rakyat Indonesia (persero) Tbk menyiapkan dana untuk mengakuisisi perusahaan asuransi umum. Untuk aksi korporasi ini, emiten dengan kode saham BBRI tersebut menganggarkan dana Rp 1,5 triliun.

“Dana yang disiapkan untuk akuisisi asuransi tidak terlalu besar, sekitar Rp 1,5 triliun,” kata Direktur Utama Bank BRI Suprajarto, usai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Gedung BRI, Kamis (3/1).

Rencana mencaplok asuransi umum ini dijelaskan Suprajarto guna melengkapi bisnis perseroan sebagai penyedia jasa keuangan yang komprehensif.

Meski demikian, Suprajarto bilang perseroan belum membidik perusahaan tertentu yang hendak dicaplok. Namun, ia menargetkan, eksekusi bisa dilakukan perseroan pada Semester I tahun 2019 ini.

“Kami masih mengamati beberapa pemain, sampai sekarang juga belum ada due diligence, masih mengomparasi beberapa calon. Harapannya Semester I/2019 bisa dilaksanakan,” lanjutnya.

Sebelumnya, BRI telah melakukan aksi korporasi serupa terhadap tiga perusahaan yakni  PT BRI Ventura Investama, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Danareksa Investment Management.

Dalam keterangan resmi di Bursa, akhir Desember lalu, BRI telah mengempit 68% saham di Danareksa Sekuritas, dan 35% Danareksa Investment Management. Sementara 97,61% saham BRI Ventura Investama sebelumnya juga diborong BRI.

Reporter: Anggar Septiadi
Editor: Noverius Laoli

Reporter: Anggar Septiadi
Editor: Noverius Laoli
Video Pilihan

Hasil investasi asuransi umum hanya tumbuh mini

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Industri asuransi umum terus mencatatkan kinerja positif. Sayangnya pertumbuhan hasil investasi asuransi umum masih mini karena pelaku usaha memilih konservatif dalam memilih instrumen investasi ketika pasar masih tertekan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, sampai Oktober 2018, industri asuransi umum meraih hasil investasi Rp 3,46 triliun, atau tumbuh 3,9% dibandingkan Oktober tahun lalu sebesar Rp 3,33 triliun. Meski tumbuh tipis, tapi porsi dana investasi asuransi umum masih tumbuh 10,58% menjadi Rp 71,35 triliun pada Oktober 2018.

Di tengah kondisi pasar yang tertekan, pelaku usaha masih mengandalkan instrumen investasi deposito sebesar 35,99% dari total dana investasi. Kemudian disusul instrumen reksadana 21,49%, diikuti SBN 12,99%, obligasi korporasi 11,40% dan selanjutnya saham 5,8%.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody Achmad Sudiyar Dalimuthe menjelaskan, bahwa pelaku usaha lebih memilih instrumen deposito dan reksadana karena cenderung stabil serta lebih tahan terhadap fluktuasi indeks harga saham gabungan (IHSG).

“Asuransi umum memang sangat hati-hati dan konservatif memilih portofolio investasi. Yang pasti, pelaku usaha memilih instrumen yang likuid sehingga bisa membayar klaim asuransi,” kata Dody di Jakarta, ketika ditemui beberapa waktu lalu.

Sementara untuk pemilihan surat berharga negara (SBN), industri hanya memenuhi ketentuan pemerintah bahwa pelaku usaha minimal berinvestasi ke SBN sebanyak 20% dari total investasi perusahaan. Kewajiban itu termuat dalam Peraturan OJK (POJK) Nomor 1 tahun 2016 tentang Investasi Surat Berharga Negara Bagi Lembaga Jasa Keuangan Non – Bank.

Menurutnya, ketika kondisi pasar saham sedang memerah, industri akan mengalihkan investasi ke reksadana. Namun, kata dia, industri asuransi umum tidak terlalu agresif melakukan perombakan investasi jika dibandingkan asuransi jiwa yang menjanjikan target hasil investasi ke nasabah, serta periode investasi yang juga lebih panjang.

Tumbuh Positif

Pemilihan portofolio investasi mempengaruhi kinerja hasil investasi memang dibenarkan oleh PT Asuransi Adira Dinamika atau dikenal dengan Adira Insurance. Sampai November 2018, perusahaan asuransi umum ini sukses mencatatkan kinerja hasil investasi tumbuh 7% secara year on year (yoy).

Kepala Divisi Investasi Adira Insurance Tjandra Irawan mengatakan, keberhasilan itu berkat pemilihan instrumen investasi yang sebagian besar ditaruh ke deposito, surat berharga pemerintah dan surat berharga korporasi.

“Investasi tersebut meningkat dibarengi pendapatan tetap yang diperoleh dari bunga deposito dan kupon obligasi,” ungkapnya.

Dengan pencapaian tersebut, Adira Insurance di tahun depan telah menyiapkan strategi untuk meningkatkan kinerja hasil investasi perusahaan. Salah satunya, perusahaan akan memberikan porsi yang lebih besar pada istrumen deposito seiring ekspetasi kenaikan suku bunga perbankan di tahun 2019.

Pemain lain mengalami hal serupa. PT Asuransi Wahana Tata (Aswata) mencatatkan hasil investasi yang positif karena ditopang pertumbuhan bunga deposito. Presiden Direktur Aswata Christian Wanandi mengatakan, sampai November 2018, Aswata telah membukukan 95% hasil investasi sesuai target perusahaan.

Reporter: Ferrika Sari
Editor: Wahyu Rahmawati

Reporter: Ferrika Sari
Editor: Wahyu Rahmawati
Video Pilihan

Jaga kualitas, realisasi pembiayaan Indosurya Finance hanya 85% dari target 2018

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Indosurya Inti Finance (Indosurya Finance) menargetkan penyaluran pembiayaan dan laba bersihnya dapat naik 15%-20% pada tahun depan. 

Managing Director Indosurya Finance Mulyadi Tjung mengatakan, untuk mencapai target itu, perusahaannya akan fokus ke peningkatan kualitas dan produktivitas.

Sementara itu, tahun ini memperkirakan realisasi pembiayaannya pada tahun ini hanya mencapai 85% dari target pembiayaan yang ditetapkan sebesar Rp 2,5 triliun. Alhasil, realisasi penyaluran pembiayaan Indosurya Finance tahun ini hanya sekitar 2,12 triliun.

Sementara itu, realisasi perolehan laba bersihnya diperkirakan hanya 90% dari target laba bersih 2018 yang ditetapkan sebesar Rp 209 miliar. 

Mulyadi bilang, penyaluran pembiayaan yang tak mencapai target ini lantaran perusahaannya ingin menjaga kualitas kredit. Selain itu, menurut Mulyadi hari kerja efektif di tahun 2018 cenderung lebih pendek juga berpengaruh pada realisasi target.

Sementara itu, sektor yang paling banyak menyumbang piutang pembiayaan Indosurya Finance adalah sektor perdagangan. “Sesuai dengan penyebaran sektor ekonomi nasional,” kata Mulyadi saat dihubungi Kontan.co.id beberapa waktu lalu.

Reporter: Nur Qolbi
Editor: Herlina Kartika

Reporter: Nur Qolbi
Editor: Herlina Kartika
Video Pilihan

Ubah kegiatan usaha, OJK cabut izin Sosial Enterprener Indonesia 

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencabut izin usaha PT Sosial Enterprener Indonesia karena melakukan perubahan kegiatan usaha bukan sebagai perusahaan modal ventura.

Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB)  I Anggar B. Nuraini mengatakan, bahwa keputusan pencabutan izin tersebut tertuang dalam Keputusan Dewan Komisioner OJK Nomor KEP-104/D.05/2018 tanggal 23 November 2018.

“Pencabutan izin usaha tersebut berlaku sejak pengesahan akta perubahan anggaran dasar  Sosial Enterprener Indonesia Nomor 14 tanggal 11 Oktober 2018 oleh Kementerian Hukum dan HAM pada 15 Oktober 2018,” terang Anggar, dalam pengumuman pers OJK, akhir pekan lalu.

Dengan dicabutnya izin usaha tersebut, maka Sosial Enterprener Indonesia dilarang melakukan kegiatan usaha di bidang perusahaan modal ventura dan diwajibkan untuk menyelesaikan hak dan kewajiban sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

“Mereka harus menyelesaian hak dan kewajiban pasangan usaha, debitur, investor dana ventura, kreditur atau pemberi dana yang berkepentingan,” tambahnya. 

Selain itu, perusahaan juga wajib memberikan informasi secara jelas kepada pasangan usaha, debitur, investor dana ventura, kreditur atau pemberi dana yang berkepentingan mengenai mekanisme penyelesaian hak dan kewajiban. Selanjutnya, mereka wajib menyediakan pusat informasi dan pengaduan nasabah di internal perusahaan

Sesuai ketentuan pasal 56 Peraturan OJK (POJK) Nomor 34/POJK.05/2015 tentang Perizinan Usaha dan Kelembagaan Perusahaan Modal Ventura, Sosial Enterprener Indonesia dilarang untuk menggunakan kata ventura atau ventura syariah dalam nama perusahaan. Perusahaan ini sendiri beralamat di gedung Menara Kadin Indonesia lantai 25, Jl. HR Rasuna Said Kav. 2-3, Blok X-5, Setiabudi, Kuningan, Jakarta Selatan.

Reporter: Ferrika Sari
Editor: Yoyok

Reporter: Ferrika Sari
Editor: Yoyok
Video Pilihan

Garap komunitasi pedesaan, Mobisaria menggandeng Telkomsel

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pada Jumat (21/12), Telkomsel sepakat bekerjasama dengan komunitas pedesaan berbasis digital melalui platform Mobisaria yang berbasis syariah. Mobisaria merupakan platform digital yang menghubungkan komunitas yang ada di pedesaan seperti pesantren, Baitul Mal wat Tamwil (BMT) petani, perajin, UKM dan lain-lain. Ada empat platform yang akan dikembangkan, yakni e-wallet, microfinance, e-commerce dan business solution.

“Telkomsel sebagai salah satu infrastruktur digital terbesar di Indonesia dan  memiliki T-Cash,” tutur Dadang Geminar, Founder dan Direktur Mobisaria, dalam rilis, Jumat (21/12). E-wallet untuk melakukan pembayaran, microfinance adalah aplikasi pengajuan kredit mikro, e-commerce merupakan aplikasi transaksi pembelian barang secara online dan  business solution membantu komunitas pedesaan untuk meningkatkan produktivitas.

Dadang menegaskan, potensi pasar Mobisaria sangat  besar, satu BMT bisa memiliki 10.000 – 20.000 anggota. “Target kita semua BMT di Indonesia akan terintgrasi dengan Mobisaria, jika semua bisa dihubungkan dengan Mobisaria bisa mencakup sekitar 30 juta anggota, belum lagi menghitung anggota dari kalangan pesantren,” jelas Dadang. 

Reporter: Ahmad Febrian
Editor: Ahmad Febrian

Reporter: Ahmad Febrian
Editor: Ahmad Febrian
Video Pilihan

Multifinance optimistis bisa menjaga margin bunga bersih

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Biaya dana yang harus ditanggung industri pembiayaan mengalami kenaikan di tahun ini mengikuti tren kenaikan suku bunga acuan. Pelaku usaha pun harus berupaya keras untuk menjaga perolehan margin bunga.

Direktur Utama PT BCA Finance Roni Haslim mengatakan, untuk menjaga margin bunga bersih atau net interest margin (NIM), pihaknya selalu melakukan penyesuaian bunga pembiayaan setiap ada kenaikan biaya dana. “Bunga jual kami akan terus mengikuti naik turunnya cost of fund,” kata dia, Rabu (19/12).

Untungnya, perusahaan ini masih bisa mendapat pendanaan dengan beban bunga yang relatif lebih rendah lewat pinjaman dari Bank BCA. Dengan begitu, BCA Finance diklaim masih bisa menawarkan bunga yang kompetitif dibanding kompetitor meski harus mengerek bunga pembiayaan. Dengan keunggulan ini, ia optimis ke depan BCA Finance bisa terus menjaga NIM dengan cukup baik.

Strategi serupa juga dilakukan PT BFI Finance Indonesia. Direktur BFI Finance Sudjono mengatakan, sejauh ini pihaknya telah menyesuaikan tren kenaikan biaya dana yang sudah terjadi di pasaran akibat kenaikan suku bunga acuan.

Hingga kuartal ketiga ini, ia menyebut margin bunga perusahaan yang banyak bermain di segmen kredit mobil bekas ini masih cukup terjaga dikisaran dua digit. Hal ini diantaranya terbantu oleh kondisi biaya dana di awal tahun ini yang lebih rendah ketimbang tahun lalu.

Meski begitu, kondisi biaya pendanaan di kuartal-kuartal berikutnya diakui bakal makin menantang. Untuk itu, pihaknya bakal makin banyak mencari sumber-sumber dana murah yang bisa didapat, selain dengan menekan sejumlah biaya yang masih bisa dioptimalkan.

Reporter: Tendi Mahadi
Editor: Wahyu Rahmawati

Reporter: Tendi Mahadi
Editor: Wahyu Rahmawati
Video Pilihan

Fintech syariah telah lampui target penyaluran dana 2018

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Fintech syariah yang terdaftar di Otoritas Jasa Keungan (OJK) telah melampaui target penyaluran pinjaman tahun 2018. Dua fintech syariah yang terdaftar di OJK, yaitu Dana Syariah dan Ammana telah menyalurkan pinjaman sebesar Rp 70 miliar dan Rp 7 miliar.

Ketua Umum Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI) Ronald Yusuf Wijaya memperkirakan, penyaluran pinjaman fintech syariah akan mencapai Rp 60 miliar sampai akhir tahun. Bahkan, prediksi Ronald ini juga turut memasukkan empat fintech syariah yang tengah dalam proses pencatatan di OJK. 

“Kami memperkirakan jumlah pinjaman akan akan sampai Rp 50 miliar–Rp 60 miliar karena masyarakat makin penasaran dengan pembiayaan syariah,” kata Ronald kepada Kontan.co.id, Kamis (2/8).

Sementara, Sekreterais Jenderal AFSI, Lutfhi Adhiansyah mengatakan, pihaknya belum memiliki target penyaluran pinjaman untuk 2019. Menurutnya, tahun depan AFSI akan fokus terlebih dahulu pada peningkatan kualitas dari para anggotanya. 

“Pasti dengan teknologi kita harus menunjukkan kecepatan, layanan, dan profesionalitas. Akan tetapi, di atas semua itu adalah kualitas. Jangan sampai ngejar kecepatan tapi secara kualitas amburadul,” kata dia saat dihubungi Kontan.co.id, Jumat (14/12).

Selain itu, AFSI juga akan meningkatkan edukasi dan perlindungan terhadap konsumen dengan memastikan semua anggotanya menjalankan prinsip-prinsip syariah secara benar. AFSI juga akan mengedepankan semangat kolaborasi dengan bank-bank syariah serta anggota asosiasi. 

Hal itu sudah terbukti dengan Dana Syariah yang telah menjalin pembicaraan dengan tiga bank syariah, salah satunya adalah Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah untuk menjadi investor siaga di fintech tersebut.

Semangat kolaborasi fintech dengan perbankan juga mendapat sambutan baik dari Bank Indonesia (BI). Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran (DKSP) Bank Indonesia Erwin Haryono mengatakan bank dan fintech harus berkolaborasi karena ada begitu banyak pangsa pasar pendanaan yang tidak bisa dilayani oleh bank, termasuk 60 juta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang ada di Indonesia.

“Karena buat bank terlalu mahal untuk masuk ke mereka. Mereka punya kredit worthiness yang sangat rendah. Apalagi bank tidak tahu informasi UMKM sehingga kalau bank harus meminjamkan uangnya ke UMKM, ia menghadapi risiko yang besar,” kata Erwin pada Kamis (13/12).

Untuk itu, menurut dia, kemunculan berbagai fintech ini dapat menjadi jembatan antara bank dan UMKM. “Jadi jangan dianggap sebagai saingan. Kami dari BI sangat ingin mendorong kolaborasi tadi karena menang banyak pangsa ekonomi yang belum di-serve oleh BI,” kata dia. Di samping itu, menurut Erwin, bank juga bisa masuk ke pangsa pasar ini dengan memanfaatkan perkembangan teknologi melalui credit scoring UMKM ini.

Hingga kini, anggota AFSI sudah mencapai 60 fintech yang terdiri dari P2P lending, payment, aggregator, dan e-commerce. Dari 60 anggotanya, 2 fintech P2P lending sudah terdaftar di OJK dan hampir 10 fintech tengah mengurus dokumen untuk tercatat di OJK, di antaranya Ethis Crowd, Kapital Boost, SyarQ, dan Syarfi.

Reporter: Nur Qolbi
Editor: Yoyok

Reporter: Nur Qolbi
Editor: Yoyok
Video Pilihan

BFI Finance bangun sekolah bagi korban gempa di Lombok

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFI Finance) menggelar program Sekolah Indonesia Cepat Tanggap (SICT) di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Program ini bekerjasama dengan Ikatan Alumni Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI) dan FUSI Foundation.

Regional Manager Wilayah Jawa Timur 2 PT BFI Finance I Kadek Tirtayasa mengatakan, program ini dilaksanakan dalam rangka pembangunan Lombok dari sisi infrastruktur fasilitas pendidikan pasca gempa yang mengguncang Lombok Juli lalu.

Salah satunya dengan membangun fasilitas sekolah bagi anak-anak di Lombok. Seperti pembangunan Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah dalam Yayasan Pendidikan Riyadlul Wardiyah di Batu Layar, Lombok Utara dan telah diresmikan hari ini.

“Kami tidak hanya membangun kembali fisik sekolah bagi anak-anak Lombok, tapi kami membangun kembali mimpi dan menyemangati mereka bahwa mereka dapat terus bersekolah dan mewujudkan cita-citanya,” kata Kadek, di Lombok, Senin (10/12).

Untuk konsep dan teknis pembangunan, lanjut Kadek, pihaknya mempercayakan kepada para ahlinya dari rekan-rekan ILUNI FTUI. Menurutnya, pembangunan sekolah ini cukup cepat. Dengan waktu sekitar dua bulan, terhitung sejak peletakan batu pertama pada 6 Oktober silam, gedung sekolah telah rampung.

Selain membangun sekolah, BFI Finance juga tanggap terhadap pemulihan pascabencana dengan menggagas beragam bantuan di Lombok dan wilayah bencana lainnya. 

Baru-baru ini, BFI Finance berinisiatif melaksanakan program trauma healing dengan melakukan pendampingan psikolog kepada para korban gempa Palu-Donggala Sulawesi Tengah, serta mengirimkan bantuan logistik.

Reporter: Ferrika Sari
Editor: Herlina Kartika

Reporter: Ferrika Sari
Editor: Herlina Kartika
Video Pilihan

Marah fintech ilegal, begini cara Danain berbisnis

KONTAN.CO.ID -JAKARTA.  Keberadaan financial technology (fintech) ilegal saat ini kian mengkhawatirkan, sebab korbannya semakin banyak. Selain tidak transparan dalam hal suku bunga dan sejumlah biaya, fintech ilegal juga kerap melakukan penagihan dengan cara yang tidak baik, sehingga sangat meresahkan. Lantas, bagaimana mekanisme penagihan di Danain, yang merupakan platform Peer to Peer (P2P) Lending pertama beragunan emas di Indonesia?

Co-founder & CEO Danain Budiardjo Rustanto mengatakan, Danain bermitra dengan PT MAS (Mas Agung Sejahtera) yang merupakan perusahaan pergadaian swasta. Sesuai regulasi perusahaan pergadaian, tenor pendanaan di Danain maksimal empat bulan atau 120 hari.

Ketika jatuh tempo tiba, PT MAS akan langsung melunasi pokok dan bunga kepada pihak pendana atau lender melalui platform Danain. Jadi, secara keseluruhan, tidak ada dampak sama sekali bagi pendana atau investor ketika terjadi gagal bayar atau keterlambatan bayar dari pihak peminjam. Urusan penagihan, 100% jadi tanggung jawab PT MAS.

Dua hari sebelum jatuh tempo tiba, PT MAS biasanya akan menelpon atau mengirimkan SMS pada pihak peminjam untuk mengingatkan perihal pelunasan. Jika tidak ada respon, PT MAS akan mengingatkan kembali pada hari H, dan ditunggu hingga tujuh hari kemudian. PT MAS akan kembali menghubungi atau datang ke rumah peminjam jika tidak ada kabar sama sekali.

“PT MAS tidak memakai jasa penagihan. Mereka melakukan penagihan sendiri dengan cara yang sangat sopan. Selama ini, belum pernah terjadi kasus penagihan yang meresahkan di PT MAS. Itu karena mereka memegang agunan berupa emas,” ujar Budiarjdo dalam siaran pers ke Kontan.co.id, Selasa (4/12).

Biasanya, lanjut Budiarjdo, PT MAS akan menyarankan perpanjangan waktu jika pihak peminjam ternyata belum bisa melakukan pelunasan. Dengan syarat, peminjam harus membayar bunganya terlebih dahulu. Sejauh ini, mekanisme seperti itu berjalan lancar, pihak peminjam menyetujuinya.

Budiardjo menambahkan, pelunasan pinjaman di PT MAS punya perbandingan 50:50. Sekitar 50% pelunasan sampai bulan keempat, sedangkan 50% lagi tidak sampai empat bulan. Sementara itu, selama beroperasi kurang lebih empat tahun, persentase gagal bayar di PT MAS juga sangat kecil.

Budi juga mengimbau kepada masyarakat untuk lebih waspada jika ingin melakukan pinjaman secara online. Ia menyarankan untuk bertransaksi dengan fintech yang sudah terdaftar dan diawasi oleh OJK. ”Cara paling mudah adalah dengan masuk ke website OJK dan cek nama platform-nya. Itu merupakan langkah kecil, namun punya dampak yang sangat besar,” kata dia.

Platform Danain senantiasa mengutamakan keamanan dalam berinvestasi. Dalam waktu dekat, Danain ingin memperkuat positioning-nya di industri fintech dalam negeri, serta melahirkan produk-produk baru yang lebih inovatif di tahun depan. “Yang tak kalah penting, Danain juga akan menambah jumlah mitra pergadaian agar pendanaan yang tersedia semakin banyak,” terang Budi.

Di platform Danain, ada puluhan bahkan ratusan emas yang selalu siap untuk didanai dengan nominal bervariasi. Total pendanaan yang tersedia setiap harinya berkisar di angka tiga miliar rupiah. Sejak melantai dari Juli 2018 lalu, Danain telah berhasil menyalurkan pinjaman lebih dari Rp 60 miliar, dengan Non Performing Loan (NPL) tetap berada di angka 0%.

Reporter: Azis Husaini
Editor: Azis Husaini

Reporter: Azis Husaini
Editor: Azis Husaini
Video Pilihan

Ekonom CIMB Niaga: Penurunan harga komoditas berefek beda ke setiap bank

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Menjelang akhir tahun ini, harga dua komoditas utama Indonesia yaitu crude palm oil (CPO) dan karet turun cukup dalam. 

Harga CPO di bursa Malaysia tercatat turun 28,6% year to date menjadi 1.834 ringgit per ton. Sedangkan untuk harga karet di bursa Tokyo Commodity Exchange juga turun sebesar 32,18% ytd menjadi ¥ 137 per kilogram (kg).

Adrian Panggabean, Kepala Ekonom CIMB Niaga mengatakan, penurunan harga komoditas ini berefek berbeda ke setiap bank. “Efek penurunan harga ini tidak merata,” kata Adrian kepada kontan.co.id, Rabu (28/11).

Secara umum bank besar memang sudah mengurangi penyaluran kredit ke komoditas seiring dengan penurunan harga yang terjadi beberapa periode sebelumnya. Namun memang ada beberapa bank yang masih menyalurkan kredit komoditas terutama CPO dan karet yang cukup besar.

Menurut Adrian kelompok bank BUKU II dan BUKU III mempunyai daya tarik ke komoditas cukup besar. Selain kelompok bank ini, bank terkait konglomerasi dan bank BUMN juga mempunyai portofolio cukup besar terkait hal ini.

Dengan penurunan harga komoditas diperkirakan akan menyebabkan bank yang banyak bermain di sektor ini akan terkena.

Jika melihat dari data Otoritas Jasa Keangan (OJK) sampai kuartal III-2018, data kredit komoditas yang terdiri dari pertaninan dan kehutanan sebesar Rp 338,5 triliun dengan NPL 1,5%.

Reporter: Galvan Yudistira
Editor: Herlina Kartika

Reporter: Galvan Yudistira
Editor: Herlina Kartika
Video Pilihan

OJK cabut sanksi pembekuan PT Tirta Finance

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencabut sanksi pembekuan kegiatan usaha perusahaan pembiayaan PT Tirta Finance. Pencabutan sanksi ini berdasarkan surat tanggal 8 November 2018.

Sebelumnya, pada 5 September 2018, OJK membekukan kegiatan usaha perusahaan tersebut karena melanggar aturan yang berlaku. PT Tirta Finance tidak menyerahkan laporan hasil penilaian tingkat risiko tahun 2017 hingga batas waktu yang ditentukan.

Padahal, Pasal 7 ayat (1) huruf a POJK Nomor 10/POJK.05/2014 tentang Penilaian Tingkat Risiko Lembaga Jasa Keuangan menyatakan bahwa lembaga keuangan wajib menyerahkan laporan hasil penilaian tingkat risiko paling lambat tanggal 28 Februari tahun berikutnya. Jadi, seharusnya PT Tirta Finance menyerahkan laporan tersebut paling lambat 28 Februari 2018.

“Berdasarkan hasil monitoring kami melalui Sistem Informasi Risk Based Supervision (SIRIBAS), PT Tirta Finance telah menyampaikan laporan hasil penilaian tingkat risiko untuk periode tahun 2017,” kata Deputi Komisioner Pengawas IKNB II OJK, Moch. Ihsanuddin dalam suratnya kepada PT Tirta Finance, Kamis (8/11).

Dengan dicabutnya sanksi tersebut, PT Tirta Finance dapat melakukan kegiatan usahanya kembali dengan tetap mengacu pada ketentuan yang berlaku.

Reporter: Nur Qolbi
Editor: Herlina Kartika

Reporter: Nur Qolbi
Editor: Herlina Kartika
Video Pilihan

Trade finance BNI cabang New York tumbuh 25% di kuartal III-2018

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatatkan pertumbuhan transaksi trade finance di cabang New York sebesar 24,62% year on year (yoy) pada kuartal III-2018.

Direktur Tresuri dan Internasional BNI Rico Rizal Budidarmo menuturkan transaksi trade finance BNI cabang New York pada September 2017 hanya US$ 60,5 juta. Nilai ini terus meningkat menjadi US$ 75,4 juta pada sembilan bulan pertama 2018.

“Hal ini sejalan dengan komitmen BNI untuk meningkatkan bisnis Indonesia related, terutama untuk peningkatan ekspor dari Indonesia ke pasar Amerika Serikat guna mendukung penguatan ekonomi Indonesia,” ujar Rico dalam keterangan tertulis, Jumat (16/11).

Guna meningkatkan kinerja trade finance, BNI melalui kantor cabangnya di New York menyelenggarakan berbagai aktivitas yang mengkonfirmasi daya tarik Indonesia sebagai negara tujuan investasi dan perdagangan untuk menarik baik calon investor dan eksportir.

Yang terbaru, BNI gelar forum bisnis bersama KJRI New York dengan tema Business Forum on Trade, Tourism, and Investment (TTI) in Indonesia. Pada acara tersebut, BNI berkesempatan untuk berdiskusi secara langsung dengan investor dan pebisnis AS dalam memfasilitasi layanan perbankan yang dapat disediakan BNI sebagai pendukung transaksi perdagangan Indonesia dan Amerika Serikat.

Dalam forum bisnis kali ini hadir lebih dari 200 pebisnis dan investor AS. Forum ini bertujuan mempromosikan potensi kerjasama ekonomi antara AS dan Indonesia dalam bidang perdagangan, pariwisata, dan investasi. Empat bidang utama yang diangkat dalam kegiatan tersebut antara lain pariwisata, ekonomi kreatif, infrastruktur, dan manufaktur.

Forum bisnis ini diharapkan dapat mendorong kerjasama ekonomi Indonesia dan AS yang lebih erat dan menguntungkan kedua belah pihak. BNI menilai event seperti ini menjadi salah satu faktor pendorong tumbuhnya transaksi perdagangan Indonesia dan Amerika Serikat.

Reporter: Maizal Walfajri
Editor: Herlina Kartika

Reporter: Maizal Walfajri
Editor: Herlina Kartika
Video Pilihan

Risiko lebih besar,BCA Finance hati-hati di bisnis kredit mobil bekas

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kenaikan harga mobil baru sebagai imbas pelemahan rupiah dinilai bisa mengalihkan perhatian konsumen ke segmen mobil bekas, karena masyarakat bisa memiliki kendaraan dengan harga yang lebih murah. Hal ini bisa jadi stimulus bagi bisnis kredit mobil seken.

Meski bisnis bisa lebih ngegas, sejumlah perusahaan mengaku tak mau terlalu jor-joran. Pasalnya menurut Direktur Utama PT BCA Finance Roni Haslim, ada sejumlah pertimbangan yang mesti diperhatikan pelaku usaha. Salah satunya adalah soal karakteristik nasabah di segmen ini.

Roni menyebut, secara alami risiko di bisnis kredit mobil bekas lebih tinggi ketimbang mobil baru. Soalnya mayoritas pembeli mobil seken adalah masyarakat yang baru pertama kali punya mobil. Kestabilan finansial dari segmen ini dinilai belum terlalu kuat.

Alhasil rasio non performing finance (NPF) di pembiayaan kendaraan roda empat bekas jadi lebih besar. Padahal pelaku pembiayaan termasuk BCA Finance disebutnya cenderung untuk lebih memperhatikan soal rasio kredit bermasalah. “Jadi kami juga harus makin selektif dalam menyalurkan pembiayaan,” kata dia belum lama ini.

Terlebih rasio NPF perusahaannya memang menunjukan kenaikan. Yakni dari 1,05% di September 2017 menjadi 1,34% di September 2018. BCA Finance berupaya menekan rasio kredit bermasalah ke level 1% di akhir 2018.

Di sisi lain, bisnis pembiayaan mobil bekas tumbuh stabil di tahun ini. Kontribusi dari segmen ini masih berada di kisaran 30% dari total pembiayaan yang disalurkan BCA Finance sampai September 2018 yang mencapai Rp 25,5 triliun.

Reporter: Tendi Mahadi
Editor: Herlina Kartika

Reporter: Tendi Mahadi
Editor: Herlina Kartika
Video Pilihan

Optimalkan efisiensi, BOPO Bank Bukopin membaik

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) mencatat perbaikan efisiensi sampai kuartal III-2018. Hal ini tercermin dari rasio biaya operasional dibandingkan pendapatan operasional atau BOPO yang menurun.

Tercatat sampai kuartal III-2018 BOPO Bank Bukopin ada di level 94% atau turun dari awal 2018 yang sebesar 99%. Sedangkan rasio cost to income atau CIR sampai kuartal III-2018 sebesar 74% dari awal 2018 sebesar 82%.

Adhi Brahmantya, Direktur Bank Bukopin mengakui rasio efisiensi menunjukkan tren yang membaik. “Program yang berdampak signifikan terhadap efisiensi BOPO adalah simplifikasi bisnis proses,” kata Adhi kepada kontan.co.id, Selasa (6/11).

Selain itu Bukopin juga melakukan pengembangan teknologi informasi untuk menggantikan proses yang manual. Bukopin juga melakukan peningkatan produktifitas jaringan layanan.

Jika dihitung sampai kuartal III-2018 rasio efisiensi BOPO mengalami perbaikan ditunjukkan dengan penurunan 7%. Sampai akhir tahun Bank Bukopin menargetkan rasio BOPO bisa menjadi 92% dan CIR menjadi 72%.

Reporter: Galvan Yudistira
Editor: Herlina Kartika

Reporter: Galvan Yudistira
Editor: Herlina Kartika

Asuransi Jiwa Syariah Jasa Mitra Abadi bukukan laba Rp 394 juta di kuartal III-2018

KONTAN.CO.ID –  JAKARTA. PT Asuransi Jiwa Syariah Jasa Mitra Abadi membukukan laba bersih Rp 394 juta di kuartal III-2018. Pada periode yang sama tahun lalu, perusahaan mencatat kerugian Rp 2,27 miliar.

Laba sebesar Rp 394 juta periode ini ditopang dari bertumbuhnya pendapatan ujrah sebesar 10% menjadi Rp 6,6 miliar. Pada periode sama tahun lalu, perusahaan mencatatkan pendapatan ujrah sebesar Rp 6 miliar.

Selain itu, hasil investasi perusahaan juga naik 140,7% menjadi Rp 6,5 miliar. Pada periode sama tahun lalu, perusahaan mencatatkan hasil investasi sebesar Rp 2,7 miliar.

Meski beban komisi juga mengalami peningkatan 243,2% menjadi Rp 2,3 miliar, setelah pada periode sama tahun lalu, perusahaan mencatatkan beban komisi Rp 671 juta, perusahaan masih dapat membukukan laba hingga kuartal III 2018.

Secara year to date, perusahaan juga berhasil mencatatkan pertumbuhan aset 4,55% menjadi Rp 173,84 miliar. Di awal tahun, perusahaan membukukan Rp 166,26 miliar.

Reporter: Puspita Saraswati
Editor: Herlina Kartika

Reporter: Puspita Saraswati
Editor: Herlina Kartika

Tugu Pratama siap bayar klaim asuransi Lion Air JT-610

PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (Tugu Insurance) menjamin Lion Air Group atas pembayaran klaim asuransi korban kecelakaan pada pesawat Lion Air JT-610 yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10).

“Kami sebagai perusahaan asuransi siap membayarkan kewajiban klaim kepada ahli waris dan pihak tertanggung Lion Air Group,” kata Indra Baruna, Presiden Direktur PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk dalam siaran persnya, Senin (5/11).

Terkait proses pencairan klaim, Indra menegaskan, kewajiban dan komitmen asuransi Tugu Pratama adalah untuk menyelesaikan klaim dengan cepat. Saat ini Asuransi Tugu Pratama sudah siap untuk mencairkan klaim bagi korban pesawat Lion JT-610.

 

Koordinasi dan kerjasama dengan seluruh pihak yang berkepentingan menjadi prasyarat atas kecepatan proses tersebut.

Menurut Indra SBOBET, Tugu Pratama akan membayar nilai klaim sesuai peraturan yang diatur dalam perjanjian polis dan  juga mengacu Peraturan Menteri Perhubungan No.77 Tahun 2011 Tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara pasal 3 (a). “Yaitu jumlah ganti kerugian terhadap penumpang yang meninggal dunia di dalam pesawat udara karena akibat kecelakaan pesawat udara atau kejadian yang semata-mata ada hubungannya dengan pengangkutan udara diberikan ganti kerugian sebesar Rp 1,25 miliar per penumpang,” jelas Indra.

Kerjasama Asuransi Tugu Pratama dan Lion Air Group mencakup beberapa jenis proteksi asuransi secara menyeluruh, baik pesawat, penumpang maupun air crew.
“Kami pasti dan segera membayarkan klaim asuransi pesawat Lion Air JT-610,” jelas Indra.

Luncurkan empat produk asuransi baru, BRI Life sasar generasi milenial

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bertepatan dengan ulang tahun ke-31, BRI Life hari ini, Minggu (4/11) meluncurkan empat produk asuransi terbarunya. Produk yang di-launching adalah Asuransi Lentera, Asuransi Medicare, Asuransi Medicare Plus, serta Asuransi CC (Critical Care) 108.

Direktur Utama Asuransi BRI Life Gatot Mardiwasisto Trisnadi berharap keempat produk asuransi ini nantinya dapat mendorong tercapainya misi BRI Life di tahun 2019 untuk menjadi perusahaan asuransi terbesar di skala asuransi mikro.

Ia mengatakan, BRI Life akan mengubah fokus perusahaan yang saat ini menggarap segmen masyarakat dewasa menjadi mengarah ke milenial.

“Dari tujuh juta nasabah BRI Life, hanya 30% diantaranya yang milenial berusia di bawah 45 tahun, padahal pootensi pasar masih luas. Nasabah dari induk perusahaan atau Bank BRI saja ada lebih dari 103 juta, maka dari itu di tahun 2019 kami targetkan bisa mendapat 3 juta nasabah,” katanya saat ditemui di Sentra BRI Minggu (4/11).

Anik Hidayati, Direktur Pemasaran & Bisnis Asuransi Syariah juga mengatakan BRI Life pada tahun 2019 akan membuka lebih luas jalur distribusi bancassurance sekaligus jalur distribusi digital untuk semua produk-produk asuransi perusahaan.

“BRI Life optimistis di tahun 2019 bisa mewujudkan target 50% nasabah berasal dari milenial atau sekitar lima juta nasabah. Strategi yang kami lakukan adalah kerjasama dengan startup diantaranya Go-Fit, Pasar Polis dan Fast Pay,” katanya.

Rencananya, Anik mengatakan pemasaran produk melalui MoU dengan perusahaan-perusahaan startup akan mulai dijalankan pada Januari 2019.

Sebagai catatan, Asuransi Lentera merupakan produk yang disalurkan melalui jalur distribusi bancassurance, dengan cara bertahap akan dipasarkan oleh frontliners Bank BRI di seluruh Indonesia. Produk asuransi ini memberikan jangka waktu perlindungan untuk delapan tahun dengan membayar premi selama lima tahun. 

Ini mencakup perlindungan terhadap lima jenis penyakit kritis diantaranya; kanker, jantung, stroke, ginjal dan hepatitis. Di akhir masa asuransi, nasabah akan mendapatkan pengembalian premi sebesar 110%.

Asuransi Medicare merupakan produk asuransi yang memberikan perlindungan kesehatan dengan batasan manfaat yang lengkap (inner limit) serta fasilitas cashless (pembayaran non tunai) yang berlaku hingga ke manca negara.

Asuransi Medicare Plus merupakan produk asuransi yang memberikan manfaat lebih berupa perlindungan kesehatan dengan manfaat lengkap as charged serta fasilitas cashless (pembayaran non tunai) yang berlaku hingga manca negara.

Asuransi CC (critical care) 108 merupakan produk asuransi yang memberikan perlindungan terhadap 108 kondisi penyakit kritis berupa fasilitas perawatan di tahap stadium awal terdeteksinya suatu penyakit kritis (early stage).

Reporter: Puspita Saraswati
Editor: Herlina Kartika

Reporter: Puspita Saraswati
Editor: Herlina Kartika

Porsi DPK valas tiga bank ini masih mini

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Guna menjaga likuiditas, bank terus memacu dana pihak ketiga (DPK). Bank himpun DPK baik dalam rupiah maupun valuta asing (valas).

PT Bank Central Asia Tbk misalnya, yang mencatatkan pertumbuhan DPK sebesar 6,9% year on year (yoy) menjadi Rp 613,89 triliun hingga September 2018.

Dari jumlah itu, “DPK Valas hanya sekitar 8% dari total DPK secara keselurahan per September 2018. Dimana lebih banyak penempatan di Giro. Kita berharap akan stabil sampai akhir tahun ini,” ujar Sekretaris Perusahaan BCA Jan Hendra kepada Kontan.co.id, Jumat (2/11).

Artinya, DPK valas BCA per September hanya sekitar Rp 49,11 triliun.

Tak mau kalah, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk juga mampu menghimpun pertumbuhan DPK 16,06% yoy menjadi Rp 195,05 triliun hingga September 2018.

“DPK valas masih kecil, baru 1% dari total dana yang dihimpun. Karena deposito valas dan tabungan valas baru kita luncurkan di awal tahun. Porsinya masih lebih besar deposito valas,” kata Direktur Konsumer BTN Budi Satria.

Budi menambahkan, BTN akan terus mendorong pertumbuhan DPK valas melalui tabungan valas BTN dengan brand Felas.

Catatan saja, berdasarkan data BI, DPK valas tumbuh lebih besar ketimbang DPK rupiah.

Sebab, “Saat ini di Indonesia valas khususnya dollar AS masih dianggap sebagai investasi yang penting untuk menghadapi gejolak nilai tukar. Sebagai pengaman finansial,” jelas Budi.

Begitu pun dengan PT Bank OCBC NISP Tbk yang mencatatkan DPK per September 2018 sebesar Rp 118,44 triliun. Nilai ini tumbuh 3% yoy dari Rp 114,75 triliun.

“Pertumbuhan DPK valas kami relatif flat. Lebih banyak di deposito. Proyeksi akhir tahun rasanya juga relatif naik di bawah 5%,” ungkap Presiden Direktur Bank OCBC NISP Parwati Surjaudaja.

Reporter: Maizal Walfajri
Editor: Yudho Winarto

Reporter: Maizal Walfajri
Editor: Yudho Winarto

Apro Financial asal Korea sah miliki 77% saham Bank Dinar Indonesia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Dinar Indonesia Tbk (DNAR) mengumumkan, Apro Financial Co Ltd asal Korea Selatan telah resmi membeli 77,38% kepemilikan saham perusahaan. Eksekusi pembelian ini dilakukan setelah Bank Dinar mendapat lampu hijau melepas saham pada 8 Oktober lalu. 

Dalam pengumumannya pada Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (1/11), Bank Dinar menyatakan, Apro membeli 1,71 miliar saham dengan harga Rp 396,89 per saham pada Kamis (25/10) lalu. Dengan kata lain, Apro harus merogoh kocek sebesar Rp 691 miliar untuk mengempit mayoritas saham Bank Dinar tersebut.

Adapun setelah transaksi, dari yang semulanya tidak ada, Apro memiliki 77,38% saham DNAR setelah transaksi. Apro menyatakan tujuan dari transaksi ini untuk pengembangan usaha DNAR.

Pada penutupan perdagangan, Kamis (1/11) saham DNAR ditutup stagnan pada level harga Rp 324.

Sebelumnya KONTAN memberitakan, setelah akuisisi ini, Bank Dinar akan merger dengan PT Bank Oke Indonesia, sehingga menjadi bank dengan kategori BUKU II (bermodal antara Rp 1 triliun – di bawah Rp 5 triliun). Merger ditargetkan rampung di akhir 2018.

Setelah merger, Apro akan menyuntikkan modal Rp 500 miliar dalam lima tahun ke depan, dan menaikkan status bank menjadi BUKU III. 

Reporter: Willem Kurniawan
Editor: Sanny Cicilia

Reporter: Willem Kurniawan
Editor: Sanny Cicilia

Likuiditas mengetat, bank menengah agresif tarik dana mahal

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank menengah agresif menarik dana mahal. Hal ini tercermin dari suku bunga deposito spesial rate kelompok bank BUKU III atau yang mempunyai modal inti antara Rp 5 triliun-Rp 30 triliun di atas rata-rata industri.

Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), sampai kuartal III-2018, bunga spesial rate deposito rata-rata industri sebesar 7,02%. Sedangkan spesial rate deposito bank BUKU III sebesar 7,17%.

LPS mencatat bank BUKU III mencatat kenaikan LDR cukup pesat melampaui suku bunga spesial rate bank BUKU IV, II dan BUKU I. Sebagai gambaran saja, bunga spesial rate BUKU IV sebesar 6,96%, BUKU II sebesar 6,91%, dan BUKU I sebesar 6,9%.

Dody Arifianto, Direktur Grup Surveillans dan Stabilitas Sistem Keuangan LPS mengatakan, kenaikan bunga deposito spesial rate bank menengah cukup tinggi karena penyaluran kredit bank BUKU III cukup tinggi.

“Pertumbuhan kredit bank BUKU III cukup tinggi yaitu 12,5% sampai September 2018,” kata Doddy, Rabu (31/10). 

Bunga deposito spesial rate di BUKU III yang tinggi ini karena likuiditas bank menengah yang cukup ketat.

Likuiditas bank BUKU III yang ketat ini ditunjukkan dengan rasio kredit dibandingkan dana pihak ketiga (DPK) yang di atas industri sebesar 103%. Dengan likuditas yang agak ketat ini menurut Doddy membuat bank menengah agresif menarik dana.

Beberapa bankir bank BUKU III menyebut persaingan perebutan likuiditas membuat bank menengah agresif menaikkan bunga deposito spesial rate. 

Djumariah Tenteram, Direktur Retail Banking Bank Permata bilang kompetisi menggalang dana pihak ketiga akan semakin ketat menjelang akhir tahun.

“Hal ini seiring dengan tren suku bunga di industri yang akan meningkat,” kata Djumariah, Rabu (31/10). Menurut Djumariah ini merupakan fenomena yang maklum terjadi dari tahun ke tahun.

Asadi Budiman, Sekretaris Perusahaan Bank BJB bilang faktor yang mempengaruhi bunga deposito spesial rate adalah kondisi pasar baik kondisi likuiditas dan bunga instrumen lain yang bersifat risk free.

“Proyeksi sampai akhir tahun diperkirakan bunga deposito spesial rate masih naik 25 bps-50 bps,” kata Asadi, Rabu (31/10). 

Ferdian Satyagraha, Direktur Keuangan Bank BJB bilang faktor yang mempengaruhi bunga deposito spesial rate adalah persaingan bank dalam mengejar pertumbuhan dana akhir tahun.

“Sampai akhir tahun diproyeksi tingkat persaingan bank makin ketat, bahkan tidak sehat dan dampaknya ke bank kecil yang akan terjepit,” kata Ferdian, Rabu (31/10).

Reporter: Galvan Yudistira
Editor: Herlina Kartika

Reporter: Galvan Yudistira
Editor: Herlina Kartika

Jumlah nasabah asuransi pertanian masih terbatas

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah masih kesulitan merealisasikan program asuransi pertanian yang telah digagas sejak tahun 2015 lalu. Padahal, program asuransi pertanian tersebut bertujuan untuk melindungi petani dari kerugian akibat gagal panen.

Padahal, Agung Hendriadi, Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP), Kementerian Pertanian (Kemtan) menjelaskan, petani yang program asuransi petani tersebut  cukup hanya membayar premi Rp 36.000 per hektare (ha) tanaman padi jika ingin ikut program asuransi. Adapun sisa premi lainnya dari total Rp 180.000 per Ha dibayarkan oleh pemerintah.

“Kita tidak tahu kenapa petani takut dengan asuransi padahal ini membantu petani,” kata Agung kepada KONTAN, Selasa (31/10). Ia bilang, asuransi pertanian mulai diterapkan tahun 2016, awalnya untuk petani padi.

Melalui asuransi pertanian ini, jika ada petani yang memiliki lahan 1 ha mengalami gagal panen, maka ia akan mendapat uang klaim sebesar Rp 6 juta. Namun sayang, Agung bilang, promosi program asuransi ke petani padi tersebut tidaklah mudah diterapkan karena minimnya promosi dan edukasi.

Perlu diketahui, untuk program ini, pemerintah mengimplementasikannya lewat PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero) atau Jasindo. Untuk meningkatkan jumlah nasabah asuransi pertanian ini, Agung bilang, sudah memberdayakan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL).

Selain kesadaran masyarakat yang masih rendah, Agung bilang, Jasindo juga masih kesulitan untuk verifikasi karena kurangnya pengalaman di seluk-beluk pertanian. “Banyak masalah, diantaranya keengganan petani dan yang kedua adalah masalah verifikato (Jasindo),” ungkap Agung.

Data Kemtan menyebutkan, tahun 2015 lalu, ada 401.408 petani yang ikut asuransi dengan luas lahan lebih kurang dari 200.00 ha. Kemudian tahun 2016 keikutsertaan petani naik menjadi 900.000 petani dengan luas lahan hampir mencapai 500.000 ha, pada tahun 2017 dan kemudian naik menjadi 1.500.000 petani dengan luas lahan 997.000 ha.

Untuk tahun 2018, keikutsertaan petani belum terdata namun untuk cakupan lahan mencapai 246.000 ha per Agustus 2018 dan hingga Oktober sudah mencapai 700.000 ha dimana target awal kepesertaan asuransi adalah 1 juta ha tiap tahunnya.

Reporter: Kiki Safitri
Editor: Asnil Amri

Reporter: Kiki Safitri
Editor: Asnil Amri

ASURANSI PERTANIAN

Banyak masalah di perusahaan asuransi, OJK perketat pengawasan

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Belum selesai masalah Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera melakukan restrukturisasi kewajibannya, baru-baru ini perusahaan asuransi plat merah Jiwasraya menambah deretan masalah di industri keuangan non-bank.

Kepala Eksekutif Pengawasan Industri Keuangan Non-Bank Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Riswinandi mengatakan, Badan Perwakilan Anggota (BPA) AJB Bumiputera melalui sidang luar biasa telah mengangkat direksi baru untuk menggantikan pengelola statuter.

“Pengelola Statuter sudah ditarik, tidak bertugas lagi. Karena sudah ada manajemen baru Bumiputera yang aktif,” katanya saat ditemui di Gedung DPR, Senin (30/10).

Menanggapi kesulitan likuiditas yang dialami oleh perusahaan asuransi Jiwasraya yang menyebabkan penundaan pembayaran polis jatuh tempo kanal bancassurance pada bulan Oktober, Riswinandi tak banyak berkomentar.

Ia hanya mengatakan jika saat ini OJK sbobet indonesia tengah menunggu hasil audit imvestigasi BPK. Pun begitu perihal kondisi Risk Based Capital (RBC) Jiwasraya dikabarkan berada di bawah standar otoritas.

“RBC Jiwasraya baru terlihat setelah audit investigasi dilakukan. Yang pasti RBC Jiwasraya di awal tahun masih dalam standar otoritas,” tuturnya.

Berkaitan dengan rentetan masalah industri perasuransian ini, Riswinandi mengatakan, OJK akan meningkatkan pengawasan pada industri keuangan non-bank. Salah satunya dengan cara adopsi pengawasan sebagaimana yang telah dijalankan pada perbankan.

“Selama ini pengawasan IKNB dianggap masih belum optimal seperti yang dilakukan perbankan, jadi kita mencoba meng-adopt sistem pengawasan perbankan ke dalam pengawasan industri Non-Bank,” terangnya.

Riswinandi kemudian mencontohkan adopsi pengawasan tersebut diantaranya meliputi mekanisme pengawasan seperti; melakukan audit dan audit insurance.

“Ini proyek yang berkesinambungan Jadi bertahap, untuk apa yang bisa kita implementasikan kita lakukan,” pungkasnya.

OJK: LINE Financial Asia tak akan menjadi mayoritas di Bank KEB Hana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Setelah LINE Financial Asia, anak usaha LINE Financial masuk menjadi pemegang saham 20% Bank KEB Hana, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan perusahaan teknologi ini tak akan menjadi pemegang saham mayoritas.

Hal ini disampaikan Slamet Edy Purnomo menjadi Deputi Komisioner Pengawas Perbankan IV OJK kepada kontan.co.id, Senin (29/10). “Setahu saya LINE Financial Asia minoritas di Bank KEB Hana,” kata Slamet.

Bagaimana nanti rencana bisnis KEB Hana setelah LINE masuk?

Slamet bilang KEB Hana ingin membangun produk digital banking. Hal ini karena di Korea Selatan sudah banyak produk digital banking. Sebagai gambaran saat ini Bank KEB Hana dimiliki 89% oleh KEB Hana Bank Korea. Sisanya dimiliki International Finance Corporation 9,9% dan Bambang Setijo 1%.

LINE Financial Asia akan secara resmi melakukan finalisasi perjanjian dengan PT Bank KEB Hana setelah menerima persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan, dan segera mempersiapkan peluncuran layanan perbankan digital yang diperkirakan tersedia di tahun 2019.

Reporter: Galvan Yudistira
Editor: Wahyu Rahmawati

Reporter: Galvan Yudistira
Editor: Wahyu Rahmawati

AKUISISI BANK

Ajak milenial berinvestasi, BNI luncurkan SiMUDA

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) meluncurkan produk Simpanan Pemuda dan Mahasiswa (SiMUDA) RumahKu dan InvestasiKu. Hal ini guna mendukung program Bulan Inklusi Keuangan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Melalui kedua produk tersebut, BNI memberikan sarana kepada para milenial untuk mulai berinvestasi sejak usia muda tanpa membebani keuangan mereka.

“Melalui SiMUDA RumahKu para milenial dapat mulai berinvestasi untuk keperluan pembelian atau renovasi rumah, dan pendidikan. Setiap bulannya, BNI akan melakukan pendebetan dari rekening tabungan nasabah dengan jangka waktu fleksibel antara 1 sampai dengan 18 tahun. BNI juga menawarkan suku bunga yang kompetitif,” ujar Direktur Bisnis Ritel BNI Tambok P Setyawati dalam keterangan tertulis, Minggu (28/10).

Selian itu, para milenial juga mendapatkan nilai tambahan yaitu perlindungan asuransi dari BNI Life SIMUDA Saving Protection tanpa premi. Maksimal pertanggungan untuk masing-masing tertanggung adalah Rp 6 miliar.

Setelah memiliki SIMUDA RumahKu, milenial juga bisa mulai berinvestasi melalui SiMUDA InvestasiKu yang mendapat dukungan penuh dari BNI Asset Management (BNI AM).

Produk investasi tersebut memiliki fitur investasi Reksa Dana BNI AM 30 (BNI 30) dengan jenis reksa dana indeks saham. BNI 30 itu mudah dimonitor serta transparan.

“Para milenial juga akan dibantu oleh tenaga ahli Pasar Modal dari BNI AM. Pembelian awalnya sangat murah yaitu hanya Rp 100 ribu serta proses pengelolaannya aman karena berada di bawah pengawasan OJK,” tambah Tambok.

Reporter: Maizal Walfajri
Editor: Narita

Reporter: Maizal Walfajri
Editor: Narita

BISNIS PERBANKAN

Bunga KUR diturunkan, BNI Manado salurkan Rp 524 miliar

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Usaha pemerintah menurunkan suku bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) sejak 2018 mulai punya imbas. PT Bank Negara Indonesia (persero) Tbk (BBNI) wilayah Manado lampaui target penyaluran KUR.

Sekretaris Kementerian Bidang Perekonomian Susiwijono bilang sejak 2018 pemerintah telah menurunkan suku bunga KUR efektif pertahun dari 9% menjadi 7%.

“Selain itu, target porsi penyaluran juga diprioritaskan ke sektor-sektor produksi seperti pertanian, perikanan, kehutanan dan perkebunan,” kata Susiwijono ketika membuka Rembuk Nasional, di Manado, Sabtu (27/10).

Nah, akibat diciutkannya suku bunga KUR, penyaluran juga makin bertambah. BNI Manado misalnya, sepanjang 2018 BNI telah menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp 524 miliar kepada 2.397 debitur. Nilai ini melampaui target yang diberikan pemerintah kepada BNI Manado pada 2018 yaitu senilai Rp 410 miliar.

Sementara beberapa sektor andalan BNI Manado menyalurkan KUR adalah perdagangan, makanan dan minuman, pertanian, kehutanan, dan Industri kecil. Dan terutama adalah sektor perikanan dan kelautan.

“Manfaat dari KUR sangat kami rasakan, kemudahan proses kredit serta keringanan pengembalian angsuran dengan bunga 7% sangat membantu usaha kami,” kata Hasan Ladin, Nelayan asal Bitung, Sulawesi Utara dalam keterangan resmi BNI, Sabtu (27/10).

Reporter: Anggar Septiadi
Editor: Sanny Cicilia

Reporter: Anggar Septiadi
Editor: Sanny Cicilia

KUR

Asbanda nilai potensi BPD masuk pasar modal cukup besar

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Asosiasi Bank Daerah (Asbanda) melihat potensi bank daerah yang masuk ke pasar modal cukup besar. Apalagi, aset bank pembangunan daerah (BPD) masih kecil yaitu Rp 670 triliun.

Total aset ini berasal dari jumlah total 27 bank daerah di Indoensia. Kresno Sediarsi, Ketua Umum Asbanda mengatakan, masuknya bank daerah ke pasar modal diharapkan bisa memperkuat permodalan.

“Hal ini diharapkan bisa meningkatkan peran BPD bagi perekonomian Indonesia,” kata Kresno dalam sambutan dalam pembukaan bursa, Jumat (26/10).

Ekspansi BPD ke pasar modal ini seiring dengan program transformasi penguatan kelembagaan dan struktural. Dengan ini diharapkan bank daerah bisa mendapatkan alternatif pendanaan yang lebih baik. 

Reporter: Galvan Yudistira
Editor: Narita

Reporter: Galvan Yudistira
Editor: Narita

BPD

Akhir tahun ini, BRI Agro akan luncurkan aplikasi pinjaman mikro

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Akhir tahun ini, PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (AGRO) akan meluncurkan produk online lending. Produk online lending ini terkait dengan penyaluran kredit mikro yang selama ini menjadi keahlian BRI Agro.

Hirawan Nur Kustono, Sekretaris Perusahaan BRI Agroniaga mengatakan, peluncuran online lending ini akan dibantu sang induk yaitu BRI sebagai penyedia aplikasi.

“Kami masih menunggu persetujuan OJK terkait peluncuran produk ini,” kata Hira ketika ditemui setelah paparan kinerja BRI, Kamis (24/10).

Sebagai ujicoba, pada awal November 2018 ini BRI Agro akan mencoba aplikasi online lending ini di kalangan internal. Namun, Hira juga belum merinci nama aplikasi tersebut. Yang jelas, nantinya BRI Agro akan bekerjasama dengan fintech untuk mengembangkan aplikasi online lending ini.

Reporter: Galvan Yudistira
Editor: Narita

Reporter: Galvan Yudistira
Editor: Narita

EKSPANSI BANK

OnlinePajak kembangkan teknologi blockchain, dorong kepatuhan pajak

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. OnlinePajak, penyedia solusi kepatuhan pajak meraih pendanaan Seri B senilai lebih dari US$ 25 juta. Nantinya pendanaan ini akan digunakan untuk mengembangkan teknologi seperti kecerdasan buatan dan blockchain.

“Dengan investasi baru ini, kami akan mewujudkan sebuah revolusi dalam kepatuhan pajak melalui teknologi seperti kecerdasan buatan dan blockchain. Kami berencana untuk mempercepat perluasan kemampuan kami untuk terus membantu program wajib pajak,” kata CEO & Founder OnlinePajak Charles Guinot dalam rilis yang diterima Kontan.co.id, Selasa (24/10).

Pihaknya juga akan mentransformasikan kemudahan berbisnis di Indonesia, dengan membantu perusahaan dalam meningkatkan produktivitas mereka, serta mendukung Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mengelola pajak yang dibutuhkan negara.

Investasi tersebut awalnya dipimpin Warburg Pincus, kemudian diikuti Global Innovation Fund (GIF), dan Endeavor Catalyst. Investor OnlinePajak sebelumnya, Alpha JWC Ventures, Sequoia India, dan Primedge juga berpartisipasi dalam pendanaan kali ini.

Sebelumnya, OnlinePajak juga telah berhasil meraih pendanaan Seri A melalui penanam modal lokal dan asing di akhir 2017. Investasi tersebut awalnya dipimpin oleh Alpha JWC Ventures, perusahaan modal ventura yang telah menyuntikan modal ke sejumlah perusahaan teknologi besar di Indonesia. Sequoia India, yang sudah menanamkan modal di lebih dari 200 perusahaan yang tersebar di India dan Asia Tenggara (termasuk Go-Jek dan Tokopedia).

OnlinePajak adalah aplikasi perpajakan pertama yang telah mengimplementasikan teknologi blockchain. Sejak diluncurkan pada 2015, OnlinePajak telah dipercaya lebih dari 900 ribu pengguna termasuk perusahaan-perusahaan besar di antaranya Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Telkomsel, PT Astra Otoparts Tbk, TNT Skypak International, Bank Permata, Asuransi Sinarmas, dan Tokopedia. Di April 2018, OnlinePajak mendapat pengakuan dari World Economic Forum sebagai salah satu pionir teknologi kelas dunia.

Reporter: Ferrika Sari
Editor: Sanny Cicilia

Reporter: Ferrika Sari
Editor: Sanny Cicilia

FINTECH

OJK siapkan aturan equity crowdfunding sebagai sumber dana UKM

KONTAN.CO.ID – BOGOR. Dalam waktu dekat, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan segera mengeluarkan aturan mengenai layanan urun dana melalui penawaran saham berbasis teknologi (equity crowdfunding).

Direktur Pengaturan Pasar Modal OJK, Luthfy Zain Fuady mengatakan aturan ini sebagai jawaban dari kebutuhan dari pelaku kelas Usaha Kecil Menengah (UKM) yang belum bisa memanfaatkan pasar modal.

“Bulan ini sudah masuk pada tahap RDK (Rapat Dewan Komisioner), setelah itu antara 10 hingga 15 hari akan diundangkan Kemenkumham. Paling tidak akhir tahun ini sudah bisa keluar,” katanya dalam acara Pelatihan dan Media Gathering Media Massa Jakarta di Bogor, Sabtu (20/10).

Nantinya, para pelaku UKM bisa memanfaatkan equity crowdfunding sebagai sumber pendanaan dalam bentuk investasi penyertaan saham. Pemodal akan mendapatkan manfaat berupa pembagian keuntungan atau dividen sekaligus memiliki hak dalam Rapat Umum Pemegang Saham.

“Melalui equity crowdfunding, ini bisa jadi langkah awal pelaku UKM untuk menuju IPO. Skemanya lebih sederhana dibandingkan dengan Initial Public Offering. Pelaku UKM tidak perlu datang ke OJK, tidak memerlukan lawyer dan akuntan, karena ini basisnya urun dana,” tambahnya.

Untuk menjadi pemodal, Luthfy bilang ada ketentuan yang ditetapkan antara lain; bagi pihak yang memiliki penghasilan sampai dengan Rp 500 juta, nilai maksimum investasinya yakni 5%. Sedangkan bagi pihak yang memiliki penghasilan di atas Rp 500 juta, nilai maksimum investasinya yakni 10%.

Disamping kemudahan-kemudahan investasi yang ditawarkan, Luthfy tak menampik akan adanya risiko tinggi dalam berinvestasi pada platform ini. Risiko itu diantaranya; kemungkinan pemodal tidak mendapatkan dividen, saham yang tidak likuid, dilusi kepemilikan saham, kehilangan modal (capital loss), kegagalan operasional penyelenggara, hingga asimetris informasi dan kualitas informasi.

“Di equity crowdfunding, risiko pemodal berinvestasi bisa lebih tinggi dibandingkan dengan investasi di bursa. Karena dalam pendaftaran ke platform tidak di-backup oleh profesi-profesi penunjang, maka risiko harus benar-benar dikalkulasi misalnya hanya orang dengan profil pendapatan tertentu yang membeli produknya,” pungkasnya.

Reporter: Puspita Saraswati
Editor: Sanny Cicilia

Reporter: Puspita Saraswati
Editor: Sanny Cicilia

UMKM