Banyak masalah di perusahaan asuransi, OJK perketat pengawasan

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Belum selesai masalah Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera melakukan restrukturisasi kewajibannya, baru-baru ini perusahaan asuransi plat merah Jiwasraya menambah deretan masalah di industri keuangan non-bank.

Kepala Eksekutif Pengawasan Industri Keuangan Non-Bank Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Riswinandi mengatakan, Badan Perwakilan Anggota (BPA) AJB Bumiputera melalui sidang luar biasa telah mengangkat direksi baru untuk menggantikan pengelola statuter.

“Pengelola Statuter sudah ditarik, tidak bertugas lagi. Karena sudah ada manajemen baru Bumiputera yang aktif,” katanya saat ditemui di Gedung DPR, Senin (30/10).

Menanggapi kesulitan likuiditas yang dialami oleh perusahaan asuransi Jiwasraya yang menyebabkan penundaan pembayaran polis jatuh tempo kanal bancassurance pada bulan Oktober, Riswinandi tak banyak berkomentar.

Ia hanya mengatakan jika saat ini OJK sbobet indonesia tengah menunggu hasil audit imvestigasi BPK. Pun begitu perihal kondisi Risk Based Capital (RBC) Jiwasraya dikabarkan berada di bawah standar otoritas.

“RBC Jiwasraya baru terlihat setelah audit investigasi dilakukan. Yang pasti RBC Jiwasraya di awal tahun masih dalam standar otoritas,” tuturnya.

Berkaitan dengan rentetan masalah industri perasuransian ini, Riswinandi mengatakan, OJK akan meningkatkan pengawasan pada industri keuangan non-bank. Salah satunya dengan cara adopsi pengawasan sebagaimana yang telah dijalankan pada perbankan.

“Selama ini pengawasan IKNB dianggap masih belum optimal seperti yang dilakukan perbankan, jadi kita mencoba meng-adopt sistem pengawasan perbankan ke dalam pengawasan industri Non-Bank,” terangnya.

Riswinandi kemudian mencontohkan adopsi pengawasan tersebut diantaranya meliputi mekanisme pengawasan seperti; melakukan audit dan audit insurance.

“Ini proyek yang berkesinambungan Jadi bertahap, untuk apa yang bisa kita implementasikan kita lakukan,” pungkasnya.

OJK: LINE Financial Asia tak akan menjadi mayoritas di Bank KEB Hana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Setelah LINE Financial Asia, anak usaha LINE Financial masuk menjadi pemegang saham 20% Bank KEB Hana, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan perusahaan teknologi ini tak akan menjadi pemegang saham mayoritas.

Hal ini disampaikan Slamet Edy Purnomo menjadi Deputi Komisioner Pengawas Perbankan IV OJK kepada kontan.co.id, Senin (29/10). “Setahu saya LINE Financial Asia minoritas di Bank KEB Hana,” kata Slamet.

Bagaimana nanti rencana bisnis KEB Hana setelah LINE masuk?

Slamet bilang KEB Hana ingin membangun produk digital banking. Hal ini karena di Korea Selatan sudah banyak produk digital banking. Sebagai gambaran saat ini Bank KEB Hana dimiliki 89% oleh KEB Hana Bank Korea. Sisanya dimiliki International Finance Corporation 9,9% dan Bambang Setijo 1%.

LINE Financial Asia akan secara resmi melakukan finalisasi perjanjian dengan PT Bank KEB Hana setelah menerima persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan, dan segera mempersiapkan peluncuran layanan perbankan digital yang diperkirakan tersedia di tahun 2019.

Reporter: Galvan Yudistira
Editor: Wahyu Rahmawati

Reporter: Galvan Yudistira
Editor: Wahyu Rahmawati

AKUISISI BANK

Ajak milenial berinvestasi, BNI luncurkan SiMUDA

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) meluncurkan produk Simpanan Pemuda dan Mahasiswa (SiMUDA) RumahKu dan InvestasiKu. Hal ini guna mendukung program Bulan Inklusi Keuangan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Melalui kedua produk tersebut, BNI memberikan sarana kepada para milenial untuk mulai berinvestasi sejak usia muda tanpa membebani keuangan mereka.

“Melalui SiMUDA RumahKu para milenial dapat mulai berinvestasi untuk keperluan pembelian atau renovasi rumah, dan pendidikan. Setiap bulannya, BNI akan melakukan pendebetan dari rekening tabungan nasabah dengan jangka waktu fleksibel antara 1 sampai dengan 18 tahun. BNI juga menawarkan suku bunga yang kompetitif,” ujar Direktur Bisnis Ritel BNI Tambok P Setyawati dalam keterangan tertulis, Minggu (28/10).

Selian itu, para milenial juga mendapatkan nilai tambahan yaitu perlindungan asuransi dari BNI Life SIMUDA Saving Protection tanpa premi. Maksimal pertanggungan untuk masing-masing tertanggung adalah Rp 6 miliar.

Setelah memiliki SIMUDA RumahKu, milenial juga bisa mulai berinvestasi melalui SiMUDA InvestasiKu yang mendapat dukungan penuh dari BNI Asset Management (BNI AM).

Produk investasi tersebut memiliki fitur investasi Reksa Dana BNI AM 30 (BNI 30) dengan jenis reksa dana indeks saham. BNI 30 itu mudah dimonitor serta transparan.

“Para milenial juga akan dibantu oleh tenaga ahli Pasar Modal dari BNI AM. Pembelian awalnya sangat murah yaitu hanya Rp 100 ribu serta proses pengelolaannya aman karena berada di bawah pengawasan OJK,” tambah Tambok.

Reporter: Maizal Walfajri
Editor: Narita

Reporter: Maizal Walfajri
Editor: Narita

BISNIS PERBANKAN

Bunga KUR diturunkan, BNI Manado salurkan Rp 524 miliar

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Usaha pemerintah menurunkan suku bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) sejak 2018 mulai punya imbas. PT Bank Negara Indonesia (persero) Tbk (BBNI) wilayah Manado lampaui target penyaluran KUR.

Sekretaris Kementerian Bidang Perekonomian Susiwijono bilang sejak 2018 pemerintah telah menurunkan suku bunga KUR efektif pertahun dari 9% menjadi 7%.

“Selain itu, target porsi penyaluran juga diprioritaskan ke sektor-sektor produksi seperti pertanian, perikanan, kehutanan dan perkebunan,” kata Susiwijono ketika membuka Rembuk Nasional, di Manado, Sabtu (27/10).

Nah, akibat diciutkannya suku bunga KUR, penyaluran juga makin bertambah. BNI Manado misalnya, sepanjang 2018 BNI telah menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp 524 miliar kepada 2.397 debitur. Nilai ini melampaui target yang diberikan pemerintah kepada BNI Manado pada 2018 yaitu senilai Rp 410 miliar.

Sementara beberapa sektor andalan BNI Manado menyalurkan KUR adalah perdagangan, makanan dan minuman, pertanian, kehutanan, dan Industri kecil. Dan terutama adalah sektor perikanan dan kelautan.

“Manfaat dari KUR sangat kami rasakan, kemudahan proses kredit serta keringanan pengembalian angsuran dengan bunga 7% sangat membantu usaha kami,” kata Hasan Ladin, Nelayan asal Bitung, Sulawesi Utara dalam keterangan resmi BNI, Sabtu (27/10).

Reporter: Anggar Septiadi
Editor: Sanny Cicilia

Reporter: Anggar Septiadi
Editor: Sanny Cicilia

KUR

Asbanda nilai potensi BPD masuk pasar modal cukup besar

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Asosiasi Bank Daerah (Asbanda) melihat potensi bank daerah yang masuk ke pasar modal cukup besar. Apalagi, aset bank pembangunan daerah (BPD) masih kecil yaitu Rp 670 triliun.

Total aset ini berasal dari jumlah total 27 bank daerah di Indoensia. Kresno Sediarsi, Ketua Umum Asbanda mengatakan, masuknya bank daerah ke pasar modal diharapkan bisa memperkuat permodalan.

“Hal ini diharapkan bisa meningkatkan peran BPD bagi perekonomian Indonesia,” kata Kresno dalam sambutan dalam pembukaan bursa, Jumat (26/10).

Ekspansi BPD ke pasar modal ini seiring dengan program transformasi penguatan kelembagaan dan struktural. Dengan ini diharapkan bank daerah bisa mendapatkan alternatif pendanaan yang lebih baik. 

Reporter: Galvan Yudistira
Editor: Narita

Reporter: Galvan Yudistira
Editor: Narita

BPD

Akhir tahun ini, BRI Agro akan luncurkan aplikasi pinjaman mikro

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Akhir tahun ini, PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (AGRO) akan meluncurkan produk online lending. Produk online lending ini terkait dengan penyaluran kredit mikro yang selama ini menjadi keahlian BRI Agro.

Hirawan Nur Kustono, Sekretaris Perusahaan BRI Agroniaga mengatakan, peluncuran online lending ini akan dibantu sang induk yaitu BRI sebagai penyedia aplikasi.

“Kami masih menunggu persetujuan OJK terkait peluncuran produk ini,” kata Hira ketika ditemui setelah paparan kinerja BRI, Kamis (24/10).

Sebagai ujicoba, pada awal November 2018 ini BRI Agro akan mencoba aplikasi online lending ini di kalangan internal. Namun, Hira juga belum merinci nama aplikasi tersebut. Yang jelas, nantinya BRI Agro akan bekerjasama dengan fintech untuk mengembangkan aplikasi online lending ini.

Reporter: Galvan Yudistira
Editor: Narita

Reporter: Galvan Yudistira
Editor: Narita

EKSPANSI BANK

OnlinePajak kembangkan teknologi blockchain, dorong kepatuhan pajak

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. OnlinePajak, penyedia solusi kepatuhan pajak meraih pendanaan Seri B senilai lebih dari US$ 25 juta. Nantinya pendanaan ini akan digunakan untuk mengembangkan teknologi seperti kecerdasan buatan dan blockchain.

“Dengan investasi baru ini, kami akan mewujudkan sebuah revolusi dalam kepatuhan pajak melalui teknologi seperti kecerdasan buatan dan blockchain. Kami berencana untuk mempercepat perluasan kemampuan kami untuk terus membantu program wajib pajak,” kata CEO & Founder OnlinePajak Charles Guinot dalam rilis yang diterima Kontan.co.id, Selasa (24/10).

Pihaknya juga akan mentransformasikan kemudahan berbisnis di Indonesia, dengan membantu perusahaan dalam meningkatkan produktivitas mereka, serta mendukung Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mengelola pajak yang dibutuhkan negara.

Investasi tersebut awalnya dipimpin Warburg Pincus, kemudian diikuti Global Innovation Fund (GIF), dan Endeavor Catalyst. Investor OnlinePajak sebelumnya, Alpha JWC Ventures, Sequoia India, dan Primedge juga berpartisipasi dalam pendanaan kali ini.

Sebelumnya, OnlinePajak juga telah berhasil meraih pendanaan Seri A melalui penanam modal lokal dan asing di akhir 2017. Investasi tersebut awalnya dipimpin oleh Alpha JWC Ventures, perusahaan modal ventura yang telah menyuntikan modal ke sejumlah perusahaan teknologi besar di Indonesia. Sequoia India, yang sudah menanamkan modal di lebih dari 200 perusahaan yang tersebar di India dan Asia Tenggara (termasuk Go-Jek dan Tokopedia).

OnlinePajak adalah aplikasi perpajakan pertama yang telah mengimplementasikan teknologi blockchain. Sejak diluncurkan pada 2015, OnlinePajak telah dipercaya lebih dari 900 ribu pengguna termasuk perusahaan-perusahaan besar di antaranya Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Telkomsel, PT Astra Otoparts Tbk, TNT Skypak International, Bank Permata, Asuransi Sinarmas, dan Tokopedia. Di April 2018, OnlinePajak mendapat pengakuan dari World Economic Forum sebagai salah satu pionir teknologi kelas dunia.

Reporter: Ferrika Sari
Editor: Sanny Cicilia

Reporter: Ferrika Sari
Editor: Sanny Cicilia

FINTECH

OJK siapkan aturan equity crowdfunding sebagai sumber dana UKM

KONTAN.CO.ID – BOGOR. Dalam waktu dekat, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan segera mengeluarkan aturan mengenai layanan urun dana melalui penawaran saham berbasis teknologi (equity crowdfunding).

Direktur Pengaturan Pasar Modal OJK, Luthfy Zain Fuady mengatakan aturan ini sebagai jawaban dari kebutuhan dari pelaku kelas Usaha Kecil Menengah (UKM) yang belum bisa memanfaatkan pasar modal.

“Bulan ini sudah masuk pada tahap RDK (Rapat Dewan Komisioner), setelah itu antara 10 hingga 15 hari akan diundangkan Kemenkumham. Paling tidak akhir tahun ini sudah bisa keluar,” katanya dalam acara Pelatihan dan Media Gathering Media Massa Jakarta di Bogor, Sabtu (20/10).

Nantinya, para pelaku UKM bisa memanfaatkan equity crowdfunding sebagai sumber pendanaan dalam bentuk investasi penyertaan saham. Pemodal akan mendapatkan manfaat berupa pembagian keuntungan atau dividen sekaligus memiliki hak dalam Rapat Umum Pemegang Saham.

“Melalui equity crowdfunding, ini bisa jadi langkah awal pelaku UKM untuk menuju IPO. Skemanya lebih sederhana dibandingkan dengan Initial Public Offering. Pelaku UKM tidak perlu datang ke OJK, tidak memerlukan lawyer dan akuntan, karena ini basisnya urun dana,” tambahnya.

Untuk menjadi pemodal, Luthfy bilang ada ketentuan yang ditetapkan antara lain; bagi pihak yang memiliki penghasilan sampai dengan Rp 500 juta, nilai maksimum investasinya yakni 5%. Sedangkan bagi pihak yang memiliki penghasilan di atas Rp 500 juta, nilai maksimum investasinya yakni 10%.

Disamping kemudahan-kemudahan investasi yang ditawarkan, Luthfy tak menampik akan adanya risiko tinggi dalam berinvestasi pada platform ini. Risiko itu diantaranya; kemungkinan pemodal tidak mendapatkan dividen, saham yang tidak likuid, dilusi kepemilikan saham, kehilangan modal (capital loss), kegagalan operasional penyelenggara, hingga asimetris informasi dan kualitas informasi.

“Di equity crowdfunding, risiko pemodal berinvestasi bisa lebih tinggi dibandingkan dengan investasi di bursa. Karena dalam pendaftaran ke platform tidak di-backup oleh profesi-profesi penunjang, maka risiko harus benar-benar dikalkulasi misalnya hanya orang dengan profil pendapatan tertentu yang membeli produknya,” pungkasnya.

Reporter: Puspita Saraswati
Editor: Sanny Cicilia

Reporter: Puspita Saraswati
Editor: Sanny Cicilia

UMKM